Jakarta, Group band Slank memungkaskan rangkaian tour Bersilahturahmi : Merajut Kebangsaan di pondok pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur, yang berada di kaki gunung Welirang, Minggu (17/9/2017). Dengan Slank, juga turut dan budayawan Zastrouw Al Ngatawi serta Asia Pulp & Paper (APP) Cahaya Mas yang terlebih dulu sudah mengadakan di kota.

Terlebih dulu, Kaka (vokal), Ridho (gitar), Ivanka (bass), serta Bimbim (drum) sudah berkunjung di kota Ciamis (13/09), Brebes (14/09), serta Batang (15/09). Berlainan dengan tour musik biasanya, semuanya rangkaian acara tour di gelar di pondok pesantren pada setiap kota.
Tour ini berisi beragam rangkaian acara, dari mulai ziarah makam, bakti sosial berbentuk bazar minyak goreng murah, penyerahan pertolongan ke pesantren, dialog budaya serta kebangsaan dengan tokoh serta santri, dan puncaknya yakni konser atau pertunjukan musik oleh Slank.

Konser yang diadakan ini berlainan dengan rencana konser yang umum dikerjakan Slank. Pasalnya, di tengahnya konser disisipkan tausiah oleh Zastrouw Al Ngatawi. Beberapa ribu santri serta pengagum fanatik Slank yang sering disapa Slankers berbaur dalam alunan musik rock sekalian memerhatikan tausiah Zastrouw dengan khidmat.

Ambil ide dari lagu Slank yang dibawakan di panggung pada setiap konser, Zastrouw menafsirkan serta membedah lirik-lirik lagu itu jadi pesan moral yang sarat arti. Dari mulai ajakan untuk berdoa sebelumnya mulai aktivitas, pesan anti-korupsi, bersedekah, sampai menyebar virus perdamaian di muka bumi.

Zastrouw menuturkan kalau alur begini telah berlangsung di masa Wali Songo serta ulama-ulama Nusantara. Ketika itu yang populer yaitu wayang, gamelan, serta tembang macapat.

” Dalam konteks kekinian, wayang, gamelan, serta macapat alami metamorfosis jadi musik rock. Ini kita menjadikan cara untuk mengemukakan pemikiran dan ajaran mengenai keislaman. Dakwah itu dasarnya yaitu untuk menyebut. Serta langkah dakwah mesti sesuai dengan kandungan kekuatan pihak yang di panggil, ” tutur Zastrouw.

Zastrouw menyinggung kalau generasi muda sekarang ini tengah terkepung dari dua penjuru : liberalisme yang berbuntut hedonisme serta fundamentalisme agama. “Pihak Slankers sesungguhnya perlu tuntunan serta arahan, atau serum yang dapat menahan dari godaan itu, walau demikian dengan dosis serta cara yang pas, ” katanya.

Saat disinggung tentang tausiah lewat musik, Pengurus Yayasan Amanatul Ummah, Gus Bara menyebutkan kalau semua nilai sejatinya bisa ditransfer lewat medium apapun, termasuk juga dengan musik. Serta saat di tanya gagasannya tentang Slankers yang bersama-sama datang ke pesantren untuk nikmati pertunjukan musik, ia ambil bagian positifnya.

” Slankers maupun yang lain, mereka keduanya sama sisi dari bangsa ini. Mereka tetaplah mesti dihormati jadi anak bangsa ini. Kami harap dengan datangnya Slankers ke pondok pesantren supaya bisa lebih mengetahui nilai positif pesantren serta mengerti nilai filosofis lagu-lagu Slank, hingga jadi titik balik perubahan ke arah yang tambah baik ” pungkas Gus Bara.

Slank Dipandang Dapat seperti Wali Songo
Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *